Wednesday, December 31, 2014

Friday, November 14, 2014

Butterfly and the cocoon

Struggle is Good!   I Want to Fly!
 
 
Once a little boy was playing outdoors and found a fascinating caterpillar. He carefully picked it up and took it home to show his mother. He asked his mother if he could keep it, and she said he could if he would take good care of it.
 
The little boy got a large jar from his mother and put plants to eat, and a stick to climb on, in the jar. Every day he watched the caterpillar and brought it new plants to eat.
 
One day the caterpillar climbed up the stick and started acting strangely. The boy worriedly called his mother who came and understood that the caterpillar was creating a cocoon. The mother explained to the boy how the caterpillar was going to go through a metamorphosis and become a butterfly.
 
The little boy was thrilled to hear about the changes his caterpillar would go through. He watched every day, waiting for the butterfly to emerge. One day it happened, a small hole appeared in the cocoon and the butterfly started to struggle to come out.
 
At first the boy was excited, but soon he became concerned. The butterfly was struggling so hard to get out! It looked like it couldn't break free! It looked desperate! It looked like it was making no progress!
 
The boy was so concerned he decided to help. He ran to get scissors, and then walked back (because he had learned not to run with scissors…). He snipped the cocoon to make the hole bigger and the butterfly quickly emerged!
 
As the butterfly came out the boy was surprised. It had a swollen body and small, shriveled wings. He continued to watch the butterfly expecting that, at any moment, the wings would dry out, enlarge and expand to support the swollen body. He knew that in time the body would shrink and the butterfly's wings would expand.
 
            But neither happened!
 
The butterfly spent the rest of its life crawling around with a swollen body and shriveled wings.
 
It never was able to fly…
 
As the boy tried to figure out what had gone wrong his mother took him to talk to a scientist from a local college. He learned that the butterfly was SUPPOSED to struggle. In fact, the butterfly's struggle to push its way through the tiny opening of the cocoon pushes the fluid out of its body and into its wings. Without the struggle, the butterfly would never, ever fly. The boy's good intentions hurt the butterfly.
 
 
As you go through school, and life, keep in mind that struggling is an important part of any growth experience. In fact, it is the struggle that causes you to develop your ability to fly.
 

As instructors our gift to you is stronger wings…   

           

                                                                                                                                               
 

Tuesday, October 28, 2014

Thursday, September 11, 2014

Hi..

Assalamualaikum and a very good day to all..
It has been quite some time that I have written in this blog. I am here to stay... I'll be writing more often than before. Hopefully I will have something that will help you improve your english..

Thursday, January 9, 2014

nama kelas baru bagi tg 1,2 &3


  itqan
 
Sesungguhnya Allah suka kepada seseorang kamu yang apabila melakukan sesuatu kerja maka dilakukannya dengan bersungguh-sungguh (itqan). (al hadith)
p/s: Maksud ‘itqan’ dalam bahasa Arab adalah melakukan sesuatu dengan penuh komitmen, kemahiran yang tinggi dan iltizam. didoakan semoga anda semua akan lebih itqan dalam melakukan sesuatu selepas ini :)

ihsan
“Rasulullah SAW bersabda, “Ihsan ialah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihatnya, maka yakinlah bahwa Dia pasti melihatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)


iltizam
Seseorang Muslim yang ingin berjaya haruslah mempunyai kekuatan Iltizam.  Apa itu iltizam? Antara makna lain bagi iltizam ialah berpegang teguh terhadap prinsip yang dipegang, bersungguh-sungguh atau perkataan inggeris yang telah dimelayukan iaitu komited.  Banyak pepatah melayu tentang iltizam, guna menyemarakkan sifat iltizam ini.  Antaranya :-
“Genggam bara api, biar sampai jadi arang”
“Biar terbakar di tangan, jangan terbakar di hati”
Biar mati bergalang tanah, tidak hidup bercermin bangkai”

ikhlas

Ikhlas adalah salah satu hal yang bisa menyebabkan suatu amalan ibadah kita diterima Allah Ta'ala. Yang dimaksud dengan pengertian ikhlas adalah memurnikan ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap pahala dari Nya semata. Jadi dalam beramal kita hanya mengharap balasan dari Allah, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain. Demikian adalah pengertian Ikhlas dalam Islam. - See more at: http://abufarras.blogspot.com/2013/03/arti-makna-ikhlas.html#sthash.1TarjdCJ.dpuf

- tidak riak dan ujub

Saturday, November 30, 2013

KISAH NABI IBRAHIM ALAI HIS SALAM

Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh a.s. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja bernama "Namrud bin Kan'aan" Kerajaan Babylon pada masa itu termasuk kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera dalam keadaan serba cukup sandang mahupun pandangan serta saranan-saranan yang menjadi keperluan pertumbuhan jasmani mereka. Akan tetapi tingkatan hidup rohani mereka masih berada ditingkat jahiliyah. Mereka tidak mengenal Tuhan Pencipta mereka yang telah mengurniakan mereka dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mereka adalah patung-patung yang mereka pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.


Raja mereka Namrud bin Kan'aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan tangan besi dan kekuasaan mutlak. Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dapat dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebuh-lebihan yang ia nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas dengan kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir jika rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung yang terbina dari batu yang tidak dapat memberi manfaat dan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan. Dia yang dapat berbicara, dapat mendengar, dapat berfikir, dapat memimpin mereka, membawa kemakmuran bagi mereka dan melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dapat mengubah orang miskin menjadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya menjadi orang mulia dan disamping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan memiliki negara yang besar dan luas.

Di tengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calun Rasul dan pesuruh Allah s.w.t. yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya, jauh-jauh telah di ilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahawa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahawa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras dan diperangi agar mereka kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha EsaTuhan pencipta alam semesta ini.

Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun kerana iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Allah s.w.t.  kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:"Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "

Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah s.w.t.

Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan 
hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin sekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah s.w.t. agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati. Berserulah ia kepada Allah s.w.t. : "YaTuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati." Allah s.w.t. menjawab seruannya dengan berfirman: "Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? "Nabi Ibrahim menjawab: "Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."

Allah s.w.t. memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain. Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah s.w.t. itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.

Dengan izin Allah s.w.t. dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Diamenciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahawa kekuasaan dan kehendak Allah s.w.t. tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dapat menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki "Fayakun". 

Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya

Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bahkan ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan daripadanya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan. Nabi Ibrahim merasa bahawa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh. Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahawa ia diutuskan oleh Allah s.w.t. sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahawa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahawa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan laknatullah yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepadaAllah s.w.t. yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mereka rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Aazar menjadi merah mukanya dan mebuka matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yang dianggapnya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahawa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara mereka. Ia berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: "Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan marahku dan cuba mendurhakaiku. Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu dan tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."

Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seraya berkaat: "Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah s.w.t. dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah s.w.t. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu" Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih kerana tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur. 

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala

Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya kerana ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahawa hidayah itu adalah di tanganAllah s.w.t. dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendapat hidayah, bila belum dikehendaki oleh Allah s.w.t. maka sia-sialah keinginan dan usahanya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah s.w.t. dan Rasul-Nya

Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahawa bila mereka sudah tidak berdaya menolak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan iaitu bahawa mereka hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mrk dilakukan dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.

Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahawa mereka tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan berkali-kali bahawa mereka dan bapa-bapa mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan laknatullah dan iblis laknatullah. Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahawa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahawa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khuatir bahawa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.

"Inilah dia kesempatan yang ku nantikan," kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim mengejek: "Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu" Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan kita ini?" Berkata salah seorang diantara mereka: "Ada kemungkinan bahawa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini" Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata: "Bahkan dialah yang pasti berbuat, kerana ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdapat kepastian yang tidak diragukan lagi bahawa Ibrahimlah yang merosakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dapat diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mereka. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.

Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Kerana dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mereka yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan. Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.

Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka. Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim: "Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merosakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab: "Patung besar yang berkalungkan kapak dilehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Para hakim terdiam sejenak seraya melihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian berkata si hakim: "Engkaukan tahu bahawa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim, maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya kerana adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu: "Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahawa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan laknatullah. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."

Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya iut, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu: "Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya." 

Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah telah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.

Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Diantara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin. Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim didatangkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah s.w.t.: "Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."

Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal kerana iman dan keyakinannya bahawa Allah s.w.t. tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah s.w.t.. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah s.w.t. Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah s.w.t. yang tersesat itu.

Para penonton upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala melihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan pakaiannya yang tetap berbeza seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan dalam keadaan hairan seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain bagaimana hal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut anggapan mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah. Ada sebahagian daripada mereka yang dalam hati kecilnya mulai meragui kebenaran agama mereka namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mereka merasa kecewa dan malu, kerana hukuman yang mereka jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar selama berminggu-minggu telah berakhir dengan kegagalan, sehingga mereka merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mereka dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahawa pengaruhnya telah beralih ke pihak Nabi Ibrahim.



Isteri Nabi Nuh Menempuh Jalan Kesesatan


Artikel Dari: Portal Komuniti Muslimah -- Hanan.com.my

http://www.hanan.com.my/



Tarikh: Sabtu, 26 Julai 2003 @ 13:26:13 
Topik: Tazkirah



"Allah membuat perumpamaan bagi orang yang ingkar: Isteri Nuh dan 
isteri Luth, mereka adalah isteri dua orang hamba di antara hamba-
hamba Kami yang soleh. Tapi mereka berkhianat (kepada suami-
suaminya). Maka, mereka tiada berdaya membantu mereka sedikitpun 
terhadap seksaan Allah. Kepada mereka dikatakan: "Masuklah kamu ke 
dalam neraka Jahannam bersama orang yang masuk ( ke dalamnya)!" (At-
Tahrim: 10)

Seorang wanita bangun dari tidurnya, dan langsung menuju dapur untuk 
membuat makanan dan kueh-kueh. Setelah semua pekerjaan itu selesai, 
ia segera keluar rumah tanpa memberitahu suaminya, Nabi Nuh. Sebelum 
pintu rumahnya terbuka, tiba-tiba anak-anaknya yang masih muda, 
Kan'an, menegurnya:
"Mahu ke mana Ibu pagi-pagi ini?" 
Ibu mengisyaratkan sesuatu agar anaknya merendahkan suara, supaya 
tidak terdengar oleh orang lain. Lalu berkata:
"Lupakah kamu, Kan'an, bahwa hari ini adalah hari raya tuhan-tuhan 
kita. Aku akan pergi ke Makbad Besar. Di sana kaum kita telah 
menunggu untuk bersama-sama melaksanakan penyembahan kepada tuhan 
yang telah memberi rezeki dan menolong kita." 

Kan'an memandang ibunya dengan wajah tersenyum, dan kemudian 
berkata: "Ibu berbuat yang terbaik. Nanti aku akan menyusul ke sana, 
sebab bukankah ibu tahu bahwa ayah tidak senang melihat kita 
bekerjasama dalam hal ini." 
Pergilah isteri Nuh ke Makbad Besar itu. Sesampainya di sana, ia 
segera berdiri di depan berhala dan berucap: "Wed, Suwa, Yaghuts 
ya'uq, dan Masr..." (nama-nama, berhala) lah kemudian memohon, berdoa, 
mendekatkan diri, dan mempersembahkan makanan serta minuman bagi para 
penjaga yang mulai menyuarakan kalimat-kalimat yang tidak dapat 
difahami maksudnya. Kemudian mereka menunjukkan kepada tuhan-tuhan, 
dan sekali lagi menunjuk kepada orang-orang yang mempersembahkan 
korban dan mengangkat wajah mereka dengan mata terpejam, agar orang 
yang mempersembahkan korban itu merasa bahwa Tuhan senang dan rela 
kepada mereka. 
Isteri Nabi Nuh melihat, dan ia dapati puteranya Kan'an, telah keluar 
dari ruangan sembahan menuju arena tarian di sebelah Makbad. Di 
tempat itu, kaum lelaki dan perempuan bercampur menjadi satu; 
melakukan perbuatan-perbuatan sesuka hati mereka sambil bersukaria. 
Melihat itu, sang ibu merasa cemas dan khuatir terhadap keadaan 
anaknya. Diserunya Kan'an agar kembali kepadanya, tetapi Kan'an malah 
bersembunyi di tengah-tengah keramaian itu tatkala ia mendengar 
panggilan ibunya. Karena Kan'an tidak kembali setelah lama dipanggil, 
sang ibu segera kembali menuju berhala-berhala dan mulai berdoa lagi. 
Ia tidak ingin menyibukkan diri dengan urusan anaknya itu. Sambil 
berdoa, ia mengeluarkan secarik kain yang telah disapu wangi-wangian 
dari bungkusannya, dan kemudian diletakkannya di kaki berhala. Itulah 
pekerjaan yang biasa dilakukannya. 
Waktu berlalu dengan cepat, dan upacara penyembahan akhirnya selesai. 
Isteri Nabi Nuh kemudian kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan 
pulang, ia bertemu dengan anaknya, Kan'an, yang wajahnya tampak masam 
air mukanya. Cepat-cepat ia mendekati anaknya itu dan berkata: "Apa 
yang sedang kamu fikirkan, Puteraku?" 
"Tahukah ibu, apa yang telah dilakukan Nuh, ayahku?" Kata Kan'an. 
"Apa yang ia perbuat, Kan'an?" Tanya ibunya dengan wajah penuh 
kesedihan. 
"Ia menyeru umat di pasar, dan orang-orang di sekelilingnya, dan 
membantah apa yang diserukan mereka!" Jawab Kan'an. 
"Apa yang telah dilakukannya di pasar?" Tanya ibunya kemudian! Apakah 
ia hendak menjual kayu-kayu yang ia jadikan perkakas rumah?" 
Anaknya menjawab: "Aku telah mendengar bahwa ia berkata: `Hai, 
kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagimu; 
maka sembahlah Allah, bertakwalah dan taatlah kepadaNya." 
Isteri Nabi Nuh memandang Kan'an seraya berkata: "Kalau begitu, 
ayahmu tidak menghendaki kita menyembah tuhan-tuhan yang memberi 
rezeki dan memelihara kita." 
"Sesungguhnya ia benci akan hal itu dan bahkah menghinanya. Ia tidak 
pernah bersedia mempersembahkan korban kepada tuhan-tuhan yang biasa 
kita lakukan," jawab Kan'an. 
Isteri Nuh dan anaknya pulang ke rumah. Sepanjang jalan keduanya 
lebih banyak membisu. Tetapi kemudian Kan'an memecahkan kesunyian itu 
dengan bertanya: "Apakah yang akan kita lakukan ibu, bila ayah 
menyeru kita seperti yang ia serukan kepada kaum negeri ini?" 
"Tuhan-tuhan akan mengutukmu, Kan'an, jika engkau turuti seruan 
ayahmu itu!" Jawab ibunya. "Apakah kita akan meninggalkan agama kita 
dan agama nenek moyang kita hanya karena ayahmu menyerukan yang lain? 
Tidak! Sesungguhnya hal itu tidak boleh terjadi!" 
Sebelum tengah malam tiba, Nabi Nuh telah sampai di rumahnya. 
Semalaman isteri dan anak Nuh tidak dapat memejamkan mata. Nabi Nuh 
meletakkan tongkatnya di dinding rumahnya, kemudian duduk. Tidak 
lama, isterinya mendekati dan berkata: "Mengapa engkau terlambat 
pulang sampai larut malam?" 
"Aku mesti menyampaikan risalah yang diperintahkan Allah kepadaku." 
Jawab Nabi Nuh. 
"Risalah apakah itu, Nuh?" Tanya isterinya. 
Nabi Nuh menjawab: "Agar manusia menyembah Tuhannya dan meninggalkan 
penyembahan kepada berhala-berhala." 
"Kamu telah bertahun-tahun hidup bersama kami," sahut isterinya 
kemudian. "Tetapi kini kamu berselisih dengan apa yang disembah oleh 
kaummu. Maka, bagaimanakah mereka akan percaya kepadamu, yang tiba-
tiba mengatakan bahwa Allah telah mengutusmu kepada mereka dengan 
membawa suatu risalah dan menyeru mereka untuk meninggalkan 
sembahannya?" 
Nabi Nuh menjawab: "Allah telah memilihku untuk menjalankan tugas ini 
bila saja Dia kehendaki. Kumpulkan ke mari anak-anak kita. Aku akan 
menunjukkan kepada mereka tentang risalah yang kubawa ini, 
sebagaimana yang telah kuserukan kepada manusia!" Isteri Nuh tidak 
bergerak dari tempatnya, sementara anaknya Kan'an, telah duduk di 
sampingnya. Ia kemudian berkata kepada Nabi Nuh: "Anak-anakmu sedang 
tidur. Tundalah hal itu sampai datang waktu pagi!" 
Kalau begitu. Aku akan menyampaikan masalah ini kepada kalian berdua 
lebih dahulu." 
"Mengapa kamu tergesa-gesa dalam urusan ini, tidurlah sampai esok 
pagi!" Sahut isterinya. 
"Tidak!" Kata Nabi Nuh. "Aku harus melaksanakan tanggungjawabku 
terhadap Allah. Sesungguhnya kamu berdua adalah ahli baitku, dan aku 
harus menjadi orang yang menyeru kamu berdua pertama kali. 
Bersaksilah bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya dan 
tinggalkanlah semua yang kamu sembah kecuali Allah." 
Mendengar itu Kan'an melihat ke arah ayah dan ibunya. Sang ibu pula 
memandang kepadanya seraya mengangguk dan berkata: "Kami tidak akan 
meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kami dan tuhan-tuhan kaum kami 
semua." Dan Kan'an pula berkata, setelah, mendengar apa yang 
dikatakan oleh ibunya itu: "Wahai, ayah, kulihat ayah menolak 
ucapannya." 
Nabi Nuh menjawab: "Tidak mungkin aku akan meninggalkan risalah yang 
dibebankan oleh Allah kepadaku untuk kusampaikan kepada umat manusia? 
Kamu berdua terus-menerus menyembah batu dan kayu yang tidak dapat 
mendatangkan mudarat ataupun manfaat; dan kamu enggan menyembah Tuhan 
yang Maha Esa lagi Berkuasa." 
Mendengar perdebatan itu, anak-anak Nabi Nuh yang lain terbangun dari 
tidurnya. Mereka semua bangun dan menghampiri ketiga orang itu, untuk 
mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi. Melihat itu sang ibu 
segera berkata kepada mereka semua. "Ayahmu menghendaki agar kita 
meninggalkan tuhan-tuhan yang biasa kita sembah untuk kita menyembah 
tuhannya yang ia katakan telah mengutusnya untuk membimbing manusia." 
"Siapakah Tuhanmu itu, ayah?" Tanya anak-anak Nabi Nuh kepada ayah 
mereka. 
"Dia adalah Pencipta langit dan bumi serta semua makhluk yang ada di 
atas alam ini. Dialah yang memberi rezeki, mematikan semua manusia di 
hari perhitungan (kiamat)," jawab Nabi Nuh. "Di manakah Dia berada, 
Ayah? Apakah Ia berada di Makbad besar bersama tuhan-tuhan yang biasa 
kami sembah?" Tanya salah seorang di antara anak-anak Nabi Nuh. 
"Anak-anakku," kata Nabi Nuh: "Sesungguhnya Allah tidak dibatasi oleh 
ruang atau waktu. Dia adalah Pencipta ruang dan waktu itu sendiri. 
Dia tidak dapat dilihat oleh mata kita." 
"Jika demikian, bagaimana kita mengetahui bahwa Dia ada?" Tanya yang 
lain. 
Nabi Nuh menjawab: "Dari tanda-tanda kekuasaan-Nya atas segala 
sesuatu dari ciptaan-Nya dan pengadaan-Nya, dari langit yang 
ditinggikan-Nya tanpa tiang; dari bumi yang dihamparkan-Nya dan di 
dalamnya terdapat sungai-sungai dan lautan; dari hujan yang tercurah 
dari langit dan menumbuhkan tanaman yang memberikan sumber rezeki 
manusia dan haiwan-haiwan; dan dari kekuasaan-Nya menciptakan manusia 
dan mematikan mereka; yang semua itu ada di hadapan kita." 
Mendengar itu, anak-anak Nabi Nuh serentak berkata: "Allah telah 
melapangkan hati kami untuk menerima kebaikan yang ayah serukan." 
Betapa terperanjatnya hati isteri Nabi Nuh tatkala mendengar 
pengakuan terus terang anak-anaknya akan risalah yang diserukan Nabi 
Nuh. Ia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Kan'an, sambil 
berkata kepada suaminya."Telah rosak akal anak-anakmu dengan seruan 
itu. Tuhan kami akan mengutu dan menurunkan seksa kepadamu!" 
Ketika wajah anak-anak mereka menampakkan kehairanan Nabi Nuh 
menjawab: "Nanti kamu akan mengetahui bahwa berhala-hala itu tidak 
berkuasa memberikan manfaat dan tidak kuasa pula menolak kemudaratan 
atas dirinya. Bagaimana ia akan berkuasa berbuat sesuatu kepada yang 
lain?" 
Isteri Nabi Nuh tidak berhenti dalam usaha menghalang-halangi dakwah 
kebajikan yang diserukan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya. Setiap datang 
jiran tetangga yang hendak beriman kepada ajaran Nabi Nuh, dan 
meminta pendapat isteri Nabi Nuh dalam hal itu, isteri Nabi Nuh 
selalu mencadangkan orang-orang itu agar tidak mengikuti seruan 
suaminya. Bahkan ia berkata kepada mereka: "Sekiranya seruan Nuh itu 
baik, nescaya aku dan anakku, Kan'an mengikutinya." Dengan pertanyaan 
isteri Nabi Nuh itu, pulanglah para tetangga itu dengan hati yang 
yakin, dan hilanglah keraguan terhadap tuhan-tuhan yang biasa mereka 
sembuh. 
Beberapa tahun telah berlalu, dan isteri Nabi Nuh bukannya semakin 
condong kepada ajaran suaminya. rasa pertentangannya dengan Nabi Nuh 
bahkan semakin besar dan kuat. Bersama berlalunya waktu, isteri Nabi 
Nuh semakin berpaling dari seruan kebenaran yang disampaikan oleh 
suaminya. Ia berkata kepada Nabi Nuh: "Tidak ada yang mengikutimu 
kecuali hanya beberapa orang miskin. Sekiranya bukan karena 
kemiskinan yang mereka derita, nescaya mereka tidak akan mengikutimu. 
Bukankah hal ini cukup menjadi bukti bagimu bahwa seruanmu itu batil? 
Semua orang memperolok-olokkanmu. Maka sebaiknya kamu hentikan 
seruanmu itu kepada manusia...." 
Meskipun demikian, Nabi Nuh tetap berjalan di atas kebenaran Ilahi 
yang menuntut kepada kebajikan. Ia pikul semua penderitaan dan 
kejahatan orang yang merintanginya untuk menyampaikan risalah 
Tuhannya, meskipun bertahun-tahun jumlah kaum mukminin tidak lebih 
dari seratus orang. Nabi Nuh selalu berdoa kepada Allah: "Ya Tuhanku, 
sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku 
itu hanya membuat mereka lari dan semakin menjauh. 
Dan sungguh, setiap kali aku menyeru mereka agar engkau mengampuni 
mereka, mereka memasukkan anak jari ke dalam telinganya dan menutup 
dirinya dengan pakaiannya dan mereka tetap ingkar dan menyombongkan 
diri dengan keangkuhan. 
Kemudian kuseru mereka dengan terang-terangan. Dan berbicara kepada 
mereka di halayak ramai, dan juga dengan diam-diam. Maka. Aku katakan 
kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha 
Pengampun. Nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, 
dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-
kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal sesungguhnya 
Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkat kejadian? Tidakkah 
kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit 
bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai 
cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan 
kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian dia mengembalikan 
kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari kiamat) 
dengan sebenar-benarnya?
"Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu 
melalui jalan-jalan yang luas di bumi itu?" 
Nuh berkata: Ya, Tuhanku, sesungguhnya mereka telah menderhakaiku, 
dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak 
menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya 
yang amat besar." 
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan 
(penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu 
"Allah membuat perumpamaan bagi orang yang ingkar: Isteri Nuh dan 
isteri Luth, mereka adalah isteri dua orang hamba di antara hamba-
hamba Kami yang soleh. Tapi mereka berkhianat (kepada suami-
suaminya). Maka, mereka tiada berdaya membantu mereka sedikitpun 
terhadap seksaan Allah. Kepada mereka dikatakan: "Masuklah kamu ke 
dalam neraka Jahannam bersama orang yang masuk ( ke dalamnya)!" (At-
Tahrim: 10)

Seorang wanita bangun dari tidurnya, dan langsung menuju dapur untuk 
membuat makanan dan kueh-kueh. Setelah semua pekerjaan itu selesai, 
ia segera keluar rumah tanpa memberitahu suaminya, Nabi Nuh. Sebelum 
pintu rumahnya terbuka, tiba-tiba anak-anaknya yang masih muda, 
Kan'an, menegurnya:
"Mahu ke mana Ibu pagi-pagi ini?" 
Ibu mengisyaratkan sesuatu agar anaknya merendahkan suara, supaya 
tidak terdengar oleh orang lain. Lalu berkata:
"Lupakah kamu, Kan'an, bahwa hari ini adalah hari raya tuhan-tuhan 
kita. Aku akan pergi ke Makbad Besar. Di sana kaum kita telah 
menunggu untuk bersama-sama melaksanakan penyembahan kepada tuhan 
yang telah memberi rezeki dan menolong kita." 

Kan'an memandang ibunya dengan wajah tersenyum, dan kemudian 
berkata: "Ibu berbuat yang terbaik. Nanti aku akan menyusul ke sana, 
sebab bukankah ibu tahu bahwa ayah tidak senang melihat kita 
bekerjasama dalam hal ini." 
Pergilah isteri Nuh ke Makbad Besar itu. Sesampainya di sana, ia 
segera berdiri di depan berhala dan berucap: "Wed, Suwa, Yaghuts 
ya'uq, dan Masr..." (nama-nama, berhala) lah kemudian memohon, berdoa, 
mendekatkan diri, dan mempersembahkan makanan serta minuman bagi para 
penjaga yang mulai menyuarakan kalimat-kalimat yang tidak dapat 
difahami maksudnya. Kemudian mereka menunjukkan kepada tuhan-tuhan, 
dan sekali lagi menunjuk kepada orang-orang yang mempersembahkan 
korban dan mengangkat wajah mereka dengan mata terpejam, agar orang 
yang mempersembahkan korban itu merasa bahwa Tuhan senang dan rela 
kepada mereka. 
Isteri Nabi Nuh melihat, dan ia dapati puteranya Kan'an, telah keluar 
dari ruangan sembahan menuju arena tarian di sebelah Makbad. Di 
tempat itu, kaum lelaki dan perempuan bercampur menjadi satu; 
melakukan perbuatan-perbuatan sesuka hati mereka sambil bersukaria. 
Melihat itu, sang ibu merasa cemas dan khuatir terhadap keadaan 
anaknya. Diserunya Kan'an agar kembali kepadanya, tetapi Kan'an malah 
bersembunyi di tengah-tengah keramaian itu tatkala ia mendengar 
panggilan ibunya. Karena Kan'an tidak kembali setelah lama dipanggil, 
sang ibu segera kembali menuju berhala-berhala dan mulai berdoa lagi. 
Ia tidak ingin menyibukkan diri dengan urusan anaknya itu. Sambil 
berdoa, ia mengeluarkan secarik kain yang telah disapu wangi-wangian 
dari bungkusannya, dan kemudian diletakkannya di kaki berhala. Itulah 
pekerjaan yang biasa dilakukannya. 
Waktu berlalu dengan cepat, dan upacara penyembahan akhirnya selesai. 
Isteri Nabi Nuh kemudian kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan 
pulang, ia bertemu dengan anaknya, Kan'an, yang wajahnya tampak masam 
air mukanya. Cepat-cepat ia mendekati anaknya itu dan berkata: "Apa 
yang sedang kamu fikirkan, Puteraku?" 
"Tahukah ibu, apa yang telah dilakukan Nuh, ayahku?" Kata Kan'an. 
"Apa yang ia perbuat, Kan'an?" Tanya ibunya dengan wajah penuh 
kesedihan. 
"Ia menyeru umat di pasar, dan orang-orang di sekelilingnya, dan 
membantah apa yang diserukan mereka!" Jawab Kan'an. 
"Apa yang telah dilakukannya di pasar?" Tanya ibunya kemudian! Apakah 
ia hendak menjual kayu-kayu yang ia jadikan perkakas rumah?" 
Anaknya menjawab: "Aku telah mendengar bahwa ia berkata: `Hai, 
kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagimu; 
maka sembahlah Allah, bertakwalah dan taatlah kepadaNya." 
Isteri Nabi Nuh memandang Kan'an seraya berkata: "Kalau begitu, 
ayahmu tidak menghendaki kita menyembah tuhan-tuhan yang memberi 
rezeki dan memelihara kita." 
"Sesungguhnya ia benci akan hal itu dan bahkah menghinanya. Ia tidak 
pernah bersedia mempersembahkan korban kepada tuhan-tuhan yang biasa 
kita lakukan," jawab Kan'an. 
Isteri Nuh dan anaknya pulang ke rumah. Sepanjang jalan keduanya 
lebih banyak membisu. Tetapi kemudian Kan'an memecahkan kesunyian itu 
dengan bertanya: "Apakah yang akan kita lakukan ibu, bila ayah 
menyeru kita seperti yang ia serukan kepada kaum negeri ini?" 
"Tuhan-tuhan akan mengutukmu, Kan'an, jika engkau turuti seruan 
ayahmu itu!" Jawab ibunya. "Apakah kita akan meninggalkan agama kita 
dan agama nenek moyang kita hanya karena ayahmu menyerukan yang lain? 
Tidak! Sesungguhnya hal itu tidak boleh terjadi!" 
Sebelum tengah malam tiba, Nabi Nuh telah sampai di rumahnya. 
Semalaman isteri dan anak Nuh tidak dapat memejamkan mata. Nabi Nuh 
meletakkan tongkatnya di dinding rumahnya, kemudian duduk. Tidak 
lama, isterinya mendekati dan berkata: "Mengapa engkau terlambat 
pulang sampai larut malam?" 
"Aku mesti menyampaikan risalah yang diperintahkan Allah kepadaku." 
Jawab Nabi Nuh. 
"Risalah apakah itu, Nuh?" Tanya isterinya. 
Nabi Nuh menjawab: "Agar manusia menyembah Tuhannya dan meninggalkan 
penyembahan kepada berhala-berhala." 
"Kamu telah bertahun-tahun hidup bersama kami," sahut isterinya 
kemudian. "Tetapi kini kamu berselisih dengan apa yang disembah oleh 
kaummu. Maka, bagaimanakah mereka akan percaya kepadamu, yang tiba-
tiba mengatakan bahwa Allah telah mengutusmu kepada mereka dengan 
membawa suatu risalah dan menyeru mereka untuk meninggalkan 
sembahannya?" 
Nabi Nuh menjawab: "Allah telah memilihku untuk menjalankan tugas ini 
bila saja Dia kehendaki. Kumpulkan ke mari anak-anak kita. Aku akan 
menunjukkan kepada mereka tentang risalah yang kubawa ini, 
sebagaimana yang telah kuserukan kepada manusia!" Isteri Nuh tidak 
bergerak dari tempatnya, sementara anaknya Kan'an, telah duduk di 
sampingnya. Ia kemudian berkata kepada Nabi Nuh: "Anak-anakmu sedang 
tidur. Tundalah hal itu sampai datang waktu pagi!" 
Kalau begitu. Aku akan menyampaikan masalah ini kepada kalian berdua 
lebih dahulu." 
"Mengapa kamu tergesa-gesa dalam urusan ini, tidurlah sampai esok 
pagi!" Sahut isterinya. 
"Tidak!" Kata Nabi Nuh. "Aku harus melaksanakan tanggungjawabku 
terhadap Allah. Sesungguhnya kamu berdua adalah ahli baitku, dan aku 
harus menjadi orang yang menyeru kamu berdua pertama kali. 
Bersaksilah bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya dan 
tinggalkanlah semua yang kamu sembah kecuali Allah." 
Mendengar itu Kan'an melihat ke arah ayah dan ibunya. Sang ibu pula 
memandang kepadanya seraya mengangguk dan berkata: "Kami tidak akan 
meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kami dan tuhan-tuhan kaum kami 
semua." Dan Kan'an pula berkata, setelah, mendengar apa yang 
dikatakan oleh ibunya itu: "Wahai, ayah, kulihat ayah menolak 
ucapannya." 
Nabi Nuh menjawab: "Tidak mungkin aku akan meninggalkan risalah yang 
dibebankan oleh Allah kepadaku untuk kusampaikan kepada umat manusia? 
Kamu berdua terus-menerus menyembah batu dan kayu yang tidak dapat 
mendatangkan mudarat ataupun manfaat; dan kamu enggan menyembah Tuhan 
yang Maha Esa lagi Berkuasa." 
Mendengar perdebatan itu, anak-anak Nabi Nuh yang lain terbangun dari 
tidurnya. Mereka semua bangun dan menghampiri ketiga orang itu, untuk 
mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi. Melihat itu sang ibu 
segera berkata kepada mereka semua. "Ayahmu menghendaki agar kita 
meninggalkan tuhan-tuhan yang biasa kita sembah untuk kita menyembah 
tuhannya yang ia katakan telah mengutusnya untuk membimbing manusia." 
"Siapakah Tuhanmu itu, ayah?" Tanya anak-anak Nabi Nuh kepada ayah 
mereka. 
"Dia adalah Pencipta langit dan bumi serta semua makhluk yang ada di 
atas alam ini. Dialah yang memberi rezeki, mematikan semua manusia di 
hari perhitungan (kiamat)," jawab Nabi Nuh. "Di manakah Dia berada, 
Ayah? Apakah Ia berada di Makbad besar bersama tuhan-tuhan yang biasa 
kami sembah?" Tanya salah seorang di antara anak-anak Nabi Nuh. 
"Anak-anakku," kata Nabi Nuh: "Sesungguhnya Allah tidak dibatasi oleh 
ruang atau waktu. Dia adalah Pencipta ruang dan waktu itu sendiri. 
Dia tidak dapat dilihat oleh mata kita." 
"Jika demikian, bagaimana kita mengetahui bahwa Dia ada?" Tanya yang 
lain. 
Nabi Nuh menjawab: "Dari tanda-tanda kekuasaan-Nya atas segala 
sesuatu dari ciptaan-Nya dan pengadaan-Nya, dari langit yang 
ditinggikan-Nya tanpa tiang; dari bumi yang dihamparkan-Nya dan di 
dalamnya terdapat sungai-sungai dan lautan; dari hujan yang tercurah 
dari langit dan menumbuhkan tanaman yang memberikan sumber rezeki 
manusia dan haiwan-haiwan; dan dari kekuasaan-Nya menciptakan manusia 
dan mematikan mereka; yang semua itu ada di hadapan kita." 
Mendengar itu, anak-anak Nabi Nuh serentak berkata: "Allah telah 
melapangkan hati kami untuk menerima kebaikan yang ayah serukan." 
Betapa terperanjatnya hati isteri Nabi Nuh tatkala mendengar 
pengakuan terus terang anak-anaknya akan risalah yang diserukan Nabi 
Nuh. Ia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Kan'an, sambil 
berkata kepada suaminya."Telah rosak akal anak-anakmu dengan seruan 
itu. Tuhan kami akan mengutu dan menurunkan seksa kepadamu!" 
Ketika wajah anak-anak mereka menampakkan kehairanan Nabi Nuh 
menjawab: "Nanti kamu akan mengetahui bahwa berhala-hala itu tidak 
berkuasa memberikan manfaat dan tidak kuasa pula menolak kemudaratan 
atas dirinya. Bagaimana ia akan berkuasa berbuat sesuatu kepada yang 
lain?" 
Isteri Nabi Nuh tidak berhenti dalam usaha menghalang-halangi dakwah 
kebajikan yang diserukan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya. Setiap datang 
jiran tetangga yang hendak beriman kepada ajaran Nabi Nuh, dan 
meminta pendapat isteri Nabi Nuh dalam hal itu, isteri Nabi Nuh 
selalu mencadangkan orang-orang itu agar tidak mengikuti seruan 
suaminya. Bahkan ia berkata kepada mereka: "Sekiranya seruan Nuh itu 
baik, nescaya aku dan anakku, Kan'an mengikutinya." Dengan pertanyaan 
isteri Nabi Nuh itu, pulanglah para tetangga itu dengan hati yang 
yakin, dan hilanglah keraguan terhadap tuhan-tuhan yang biasa mereka 
sembuh. 
Beberapa tahun telah berlalu, dan isteri Nabi Nuh bukannya semakin 
condong kepada ajaran suaminya. rasa pertentangannya dengan Nabi Nuh 
bahkan semakin besar dan kuat. Bersama berlalunya waktu, isteri Nabi 
Nuh semakin berpaling dari seruan kebenaran yang disampaikan oleh 
suaminya. Ia berkata kepada Nabi Nuh: "Tidak ada yang mengikutimu 
kecuali hanya beberapa orang miskin. Sekiranya bukan karena 
kemiskinan yang mereka derita, nescaya mereka tidak akan mengikutimu. 
Bukankah hal ini cukup menjadi bukti bagimu bahwa seruanmu itu batil? 
Semua orang memperolok-olokkanmu. Maka sebaiknya kamu hentikan 
seruanmu itu kepada manusia...." 
Meskipun demikian, Nabi Nuh tetap berjalan di atas kebenaran Ilahi 
yang menuntut kepada kebajikan. Ia pikul semua penderitaan dan 
kejahatan orang yang merintanginya untuk menyampaikan risalah 
Tuhannya, meskipun bertahun-tahun jumlah kaum mukminin tidak lebih 
dari seratus orang. Nabi Nuh selalu berdoa kepada Allah: "Ya Tuhanku, 
sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku 
itu hanya membuat mereka lari dan semakin menjauh. 
Dan sungguh, setiap kali aku menyeru mereka agar engkau mengampuni 
mereka, mereka memasukkan anak jari ke dalam telinganya dan menutup 
dirinya dengan pakaiannya dan mereka tetap ingkar dan menyombongkan 
diri dengan keangkuhan. 
Kemudian kuseru mereka dengan terang-terangan. Dan berbicara kepada 
mereka di halayak ramai, dan juga dengan diam-diam. Maka. Aku katakan 
kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha 
Pengampun. Nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, 
dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-
kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu.
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal sesungguhnya 
Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkat kejadian? Tidakkah 
kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit 
bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai 
cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan 
kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian dia mengembalikan 
kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari kiamat) 
dengan sebenar-benarnya?
"Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu 
melalui jalan-jalan yang luas di bumi itu?" 
Nuh berkata: Ya, Tuhanku, sesungguhnya mereka telah menderhakaiku, 
dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak 
menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya 
yang amat besar." 
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan 
(penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu 
meninggalkan (penyembahan) Wadd dan jangan pula Suwa, Yaghuts, Ya'uq, 
dan Nasr."

"Dan sesungguhnya mereka (sembahan-sembahan berhala) telah 
menyesatkan orang ramai. Maka, janganlah Engkau tambahkan bagi orang-
orang yang zalim itu selain kesesatan." 
(Lihat surah Nuh ayat 5-24) Allah memerintahkan Nabi Nuh membuat 
sebuah bahtera. Pada suatu hari, isteri Nabi Nuh melihat suaminya 
mendatangkan kayu-kayu dan menyuruh para pengikutnya agar meletakkan 
kayu-kayu itu di tengah-tengah kota, padahal kota itu jauh dari laut 
dan sungai. Maka, bertanyalah sang isteri kepada suaminya. "Apakah 
yang akan engkau perbuat dengan semua kayu ini, Nuh?" 
"Aku akan membuat sebuah bahtera," jawab Nabi Nuh. "Mengapa engkau 
membuat bahtera, sedangkan di sini tidak ada lautan atau sungai yang 
dapat melayarkannya?" Tanya isteri Nabi Nuh. 
Nabi Nuh menjawab: "Bahtera ini akan belayar ketika datang perintah 
Allah." 
Kembali isteri Nabi Nuh menyanggahnya: "Bagaimana orang yang berakal 
akan percaya dengan ungkapanmu itu?" 
"Nanti engkau akan melihat bahwa hal itu akan terjadi," kata Nabi 
Nuh. 
Setelah beberapa langkah isteri Nabi Nuh meninggalkan tempat itu, ia 
masih sempat bertanya sekali lagi: "Apakah bahtera ini akan berlayar 
di atas pasir?" 
Nabi Nuh menjawab dengan penuh keyakinan: "Tidak! Tetapi banjir akan 
menenggelamkan bumi dan orang-orang yang menentang kami, dan kaum 
mukminin akan selamat di atas bahtera..." 
Maka, pergilah isteri Nabi Nuh untuk menyelesaikan urusannya. Dia 
tidak percaya sedikit pun pada apa yang dikatakan suaminya itu. 
Walaupun begitu, ia sebenarnya merasa hairan kepada berita yang 
disampaikan oleh Nabi Nuh. Ia bertanya-tanya kepada dirinya 
sendiri. "Nanti akan engkau saksikan, apakah Nabi Nuh akan 
membiarkanmu berlayar bersamanya di atas bahtera!" 
Belum selesai ia memikirkan hal yang menghantui fikirannya itu, 
terdengar suara Kan'an memanggilnya. "Apakah bahtera itu, ibu?" 
Maka, ibunya mengisahkan peristiwa dialog antara dirinya dan Nuh, dan 
mengkhabarkan pula kepada Kan'an bahwa ayahnya akan membuat sebuah 
bahtera di tengah kota. Kan'an nyaris tidak mendengar semua cerita 
ibunya, karena ia menjadi tertawa terbahak-bahak tiada henti. 
Kemudian ia berkata: "Kalau begitu, benar apa yang dikatakan orang 
tentang ayahku!" 
Isteri Nabi Nuh memandang anaknya sambil menyesali dirinya. "Aduhai 
malangnya nasib yang membuatku menjadi isteri lelaki itu selama 
bertahun-tahun. Berapa lama lagi aku harus menanggung sengsara dan 
celaka seperti ini?" Kemudian ia membawa anaknya pergi ke Makbad 
Besar. 
Di Makbad Besar, sekelompok orang sedang berbantah-bantah tentang 
Nabi Nuh. Melihat isteri Nabi Nuh dan Kan'an datang mereka segera 
berkelompok di sekelilingnya dan berkata kepadanya. "Benarkah berita 
yang sampai kepada kami bahwa Nuh akan membuat sebuah bahtera?" 
"Hal itu aku dengar dari mulut Nuh sendiri," jawab isteri Nabi Nuh. 
Bertambahlah kemarahan orang-orang itu. Jika hal itu dimaksudkan 
sebagai olok-olok Nuh kepada mereka, maka mereka akan mengusir Nabi 
Nuh dari negeri mereka. Kaum Nabi Nuh tersebut kemudian pergi ke 
tengah kota. Di sana Nabi Nuh sedang mempersiapkan kayu-kayu untuk 
dibuat bahtera. Di sekelilingnya ada sekelompok orang-orang yang 
beriman kepadanya yang membantunya menyediakan kayu-kayu itu. 
Sementara itu, kaum Nabi Nuh mulai mengolok-oloknya. Salah seorang 
dari mereka berteriak. "Baiklah, Nuh! Nyata sekali bahwa kamu akan 
datang dengan membawa bahtera kepada kami di sini, sehingga kami 
dapat naik bahtera yang kamu buat di atas padang pasir yang tandus 
ini!" 
Suara yang lain terdengar: "Baiklah, Nuh! Apakah kamu akan menyuruh 
kaum mukminin untuk datang kepadamu dengan membawa bekas-bekas yang 
penuh air untuk dituangkan ke bawah bahtera ini sehingga engkau dapat 
membuat sebuah kolam yang di atasnya bahteramu belayar?" 
Yang lain lagi berseru." Hal itu tentu saja akan memakan waktu 
beberapa ratus tahun, tahukah kamu, Nuh?"
Kemudian di antara mereka ada yang tertawa sambil mengejak Nabi Nuh." 
Dan semua air akan diserap oleh pasir..." 
Nabi Nuh tidak memberikan jawapan terhadap ejekan-ejekan dan cemuhan-
cemuhan mereka itu melainkan hanya berucap dengan beberapa kalimat 
pendek: "Jika kamu memperolok kami, kami pun akan memperolokkan kamu, 
sebagaimana kamu memperolokkan kami! Tapi kamu akan sedar, kepada 
siapa akan datang azab yang meliputi dirinya dengan kehinaan. Dan 
kepada siapa akan turun azab yang tiada akhirnya." 
(Surah Hud ayat 38-39) Beberapa tahun telah berlalu. Nabi Nuh telah 
menyelesaikan bahtera ciptaannya. Sementara itu, ejekan yang datang 
dari kaum di sekelilingnya tidak berhenti, siang dan malam. Isteri 
Nabi Nuh dalam hal itu selalu memberitahu kaum musyrikin tentang 
kesedihan suaminya selama itu. Mendengar berita itu, makin 
bertambahlah kegembiraan hati mereka. 
Pada suatu hari, isteri Nabi Nuh terbangun dari tidurnya karena 
sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Di rumahnya, Nabi Nuh 
mengumpulkan setiap jenis haiwan dan burung, masing-masing sepasang. 
Melihat perbuatan Nabi Nuh itu, isterinya bertanya. "Nuh, apa yang 
kamu lakukan? Dan ke mana kamu akan pergi dengan semua haiwan dan 
burung itu? Apakah kaum mukminin yang bersamamu akan makan haiwan-
haiwan dan burung-burung itu, dan engkau tinggalkan kami di sini 
tanpa apa-apa?" 
"Tuhanku telah memerintahkan kepadaku untuk membawa haiwan-haiwan dan 
burung-burung di dalam bahtera!" Jawab Nabi Nuh. 
Dengan agak pelik, isteri Nabi Nuh bertanya: "Bagaimana Tuhanmu 
memerintahkan seperti ini?" 
Nabi Nuh menjawab: "Kelak akan kubawa setiap pasang binatang dan 
semua kaum mukminin di dalam bahtera ini, dengan kebenaran yang 
diperintahkan oleh Tuhanku kepadaku." 
Isteri Nabi Nuh tidak mahu diam. Ia bahkan berusaha membantah sambil 
berkata: "Apa yang akan kamu lakukan dalam bahtera itu? Apakah kalian 
akan meninggalkan rumah dan hidup bersama haiwan-haiwan dan burung-
burung ini?" 
Nabi Nuh menjawab: "Kelak air akan menenggelamkan segala sesuatu, dan 
tidak ada yang akan selamat kecuali siapa yang naik ke atas bahtera 
ini, kemudian memulai kehidupan baru yang muncul dengan fajar 
keimanan!"

Kali ini isteri Nabi Nuh benar-benar merasa takut dan ngeri dengan 
ucapan suaminya itu. Namun, karena keingkarannya telah keras membatu, 
ia tetap berusaha menekan rasa takutnya itu. Segera ia pergi untuk 
memberitahu kaumnya tentang yang diperbuat suaminya. Maka, bertambah 
keraslah ejekan mereka kepada Nabi Nuh dan apa yang diperbuatnya. 
Ketika datang masa yang dijanjikan oleh Allah, terperanjatlah kaum 
Nabi Nuh melihat datangnya banjir yang besar serta merta. Pintu-pintu 
langit terbuka dan mencurahkan air hujan ke bumi, sedangkan Nabi Nuh 
bersama orang-orang yang beriman belayar di atas bahtera tanpa 
isterinya dan Kan'an puteranya. Mereka berdua menolak ketika Nabi Nuh 
memerintahkannya agar ikut bersama ke atas bahtera. Bahkan mereka 
berkata: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat 
menyelamatkan daku dari banjir!" (Hud ayat 43)

Banjir terlalu besar, hingga puncak gunung pun tenggelam. Maka 
tenggelamlah sang ibu bersama puteranya dalam gelombang banjir yang 
dahsyat. Kisah mereka di dalam Al-Quran sentiasa menjadi tanda dan 
peringatan bagi seluruh kaum mukminin bahwa petunjuk itu kadang-
kadang terasa lebih jauh meskipun bagi orang yang paling dekat dengan 
pemberi petunjuk itu sendiri.

Wednesday, November 27, 2013

silaturrahim


Tidak Masuk Syurga Memutuskan Silaturrahim (Akhir)

TIDAK MASUK SYURGA MEMUTUSKAN SILATURRAHIM
(Bilangan 269 Bahagian Akhir)

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن والاه

(Dengan nama Allah, Segala puji bagi Allah, Selawat dan salam ke atas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan para pengikut Baginda)

Hukum memutuskan silaturrahim

Memutuskan silaturrahim pula hukumnya haram dan dikira melakukan maksiat besar sehingga mendapat laknat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, Sebagaimana firmanNya:

Maksudnya: "(Kalau kamu tidak mematuhi perintah) maka tidakkah kamu harus dibimbang dan dikhuatirkan-jika kamu dapat memegang kuasa-kamu akan melakukan kerosakan di muka bumi, dan memutuskan hubungan silaturrahim dengan kaum kerabat?. (Orang-orang yang melakukan perkara-perkara yang tersebut) merekalah yang dilaknat oleh Allah serta ditulikan pendengaran mereka, dan dibutakan penglihatannya." (Surah Muhammad: Ayat 22-23)

Apatah lagi orang yang memutuskan silaturrahim ini tidak masuk syurga, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:

َMaksudnya:
"Tidak masuk syurga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan." (Hadits riwayat Muslim)

Bagaimana menghubungkan silaturrahim?

Menurut Ibnu Abu Jamrah bahawa hubungan silaturrahim boleh dieratkan dengan memberi harta, memberi bantuan dan pertolongan dalam menyampaikan hajat, menolak kemudharatan,
bersemuka, mendoakan, mengeratkan dengan apa yang termampu daripada perkara kebajikan dan menolak apa yang termampu daripada keburukan.

Sementara bagi mereka yang jauh bolehlah juga berhubung dan berkirim salam dengan berutus surat, akan tetapi jika mampu adalah afdhal untuk menziarahi mereka. Begitu juga dengan mendermakan harta kepada kaum kerabat. Bersedekah kepada kaum kerabat adalah lebih afdhal dari orang lain, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:

الصَدََقةُ عََلى اْلمِسْكِيْ ِ ن: صَدََقٌة، وَعََلى ذِي الرَحْ ِ م اِْثنَتَانِ: صَدََقٌة وَصِلٌَّة.
(سنن الدارمي)

Maksudnya: "Memberi sedekah kepada orang miskin dikira: satu sedekah, dan memberi sedekah kepada mahram dikira dua iaitu: sedekah dan mengeratkan hubungan." (Sunan ad-Darimi)

Bolehkah menjalinkan hubungan silaturrahim dengan orang kafir?

Dalam hal ini, Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak melarang berbuat baik kepada orang kafir sebagaimana firmanNya:

Tafsirnya:
Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil.
(Surah al-Mumtahanah: Ayat 8)

Keistimewaan atau kelebihan mengeratkan silaturrahim

Orang yang mengeratkan silaturrahim akan mendapat sepuluh kelebihan yang terpuji sepertimana disebutkan dalam kitab Bujairimi Ala al-Khatib:

1. Allah Subhanahu Wa Ta'ala redha kerana Dia memerintahkan supaya mengeratkan silaturrahim.

2. Membawa kebahagiaan.

3. Para malaikat gembira kerana mereka gembira dengan eratnya silaturrahim itu.

4. Memperolehi pujian yang baik daripada orang.

5. Mengisi kesedihan Iblis.

6. Dipanjangkan umur.

7. Menperoleh keberkatan rezeki.

8. Orang yang meninggal dunia mendapat kebahagiaan kerana keturunannya gembira dengan eratnya silaturahim itu.

9. Bertambah-tambah kehormatannya.

10. Bertambah-tambah pahala selepas matinya kerana orang-orang mendoakannya setiap kali disebut kebaikkanya.

Oleh yang demikian, eratkanlah silaturrahim dalam mencapai keistimewaan yang tersebut di atas dan jauhilah dari perkara yang boleh memutuskannya. Tanganilah masalah keluarga dengan
perasaan rasional dan eratkanlah semula perhubungan yang sudah retak itu dengan rasa kesedaran serta keinsafan, apatah lagi keranamereka yang tidak mahu berdamai itu akan dipertangguhkan keampunannya, sepertimana hadis Rasullullah Shallallahu 'alaihi
wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu:

Maksudnya:
"Dibuka pintu-pintu syurga itu pada hari Isnin dan Khamis, Setiap orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni, kecuali seseorang yang sedang dalam permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan: Tangguhkanlah keduanya sampai mereka mau berdamai. Tangguhkanlah keduanya sampai mereka mau berdamai. Tangguhkanlah keduanya sampai mereka mau berdamai." (Hadits riwayat Muslim)

Begitu juga mendamaikan di antara dua pihak yang berselisih itu hendaklah dengan adil dan saksama dengan tidak menyebelahi mana-mana pihak yang berselisih, kerana semua orang yang
beriman itu bersaudara dan bertanggungjawab dalam mendamaikan saudaranya yang lain sebagaimana firman Allah Subahanahu Wa Ta'ala:

Tafsirnya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudara (kamu yang bertelingkah) itu. (Surah Al-Hujurat: Ayat 10)


Sumber : Mufti Brunei

Memutuskan Silaturahim: Satu Dosa Besar


Tarikh: 
 Mar 07, 2008
Riwayat: 
 Riwayat al-bukhari
Kategori: 
 Akidah
Hadith: 
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:Sesiapa yang ingin diluaskan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia memanjangkan silaturrahim
Huraian Hadith: 
i) Silaturahim bermaksud menyambungkan tali persaudaraan atau kasih sayang, mengeratkan kembali rasa kecintaan serta menjaga keutuhan persaudaraan yang telah terbina terhadap saudara, kerabat, teman dan sebagainya.
ii) Membina dan mengeratkan silaturahim adalah merupakan satu tugas dan tuntutan yang wajib di sisi Islam di mana Rasulullah s.a.w amat membenci golongan yang suka memutuskan hubungan persaudaraan sesama manusia sebagaimana sabda baginda yang maksudnya: Tidak halal bagi seorang muslim menjauhi (memutuskan) hubungan dengan saudaranya melebihi tiga hari.
iii) Mewujudkan silaturrahim bukan sekadar membawa maksud menyambung kembali ikatan persaudaraan yang telah retak atau memulihkan semula ketegangan dalam perhubungan malah ia membawa erti yang lebih luas lagi iaitu membina kemesraan dan keakraban dengan sesiapa sahaja menerusi sifat saling membantu, bertolak ansur dan sebagainya.
iv) Biasanya punca permasalahan dan gejala keretakan persaudaraan didahului dengan pertengkaran dan saling menjauhkan diri. Maka adalah menjadi kewajipan bagi seorang muslim yang lain mengajak saudaranya yang bertelagah itu ke jalan perdamaian sama ada dengan cara mendatangi, menyapa atau memberi salam serta diikuti dengan ucapan meminta maaf.
v) Seseorang yang sedang berada dalam suasana tegang (perselisihan faham) hendaklah membanyakkan sabar dan bersikap terbuka serta mengalah untuk meminta maaf atau memaafkan orang lain. Jangan bersikap sombong dan angkuh serta menganggap diri sentiasa benar atau betul kerana inilah punca terjadinya keretakan hubungan yang berterusan. Sesungguhnya dosa sesama insan hanya boleh dimaafkan oleh manusia itu sendiri dan bukanlah boleh diampunkan oleh Allah S.W.T.

Doa untuk anak

Doa untuk anak



 

Doa ibubapa untuk anak-anaknya sangat makbul. Jangan sia-siakan kemuliaan yang Allah kurniakan kepada ibubapa iaitu mustajabnya doa ibubapa untuk anak-anak.  

Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Majjah menegaskan tiga golongan jika berdoa pasti dimakbulkan iaitu orang dizalimi, orang musafir dan doa ibu bapa kepada anaknya.

Rugilah bagi sesiapa yang mensia-siakan peluang ini. Setiap ibubapa pasti mengimpikan anak-anak mereka menjadi orang-orang yang berjaya di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat. Nah, gunakan kemuliaan yang Allah kurniakan ini untuk berdoa untuk anak-anak.

Berikut ini adalah panduan doa yang masyhur untuk anak-anak.


Doa supaya anak-anak tetap mengerjakan solat:
Surah Ibrahim ayat 40-41

Ertinya " Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mengerjakan solat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami. Tuhanku, ampunilah aku dan ibubapaku serta sekelian sorang-orang mukmin pada hari hisab nanti"
Doa mohon keturunan yang soleh, penyenang hati dan menajdi orang yang bertakwa
Surah al-Furqan ayat 74

Ertinya"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri dan keturunan kami menjadi penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa"

Doa anak taat kepada Allah
Surah Al-Baqarah (ayat 128)
Ertinya " Wahai tuhan kami, jadikanlah kami berdua ini orang yang patuh dan berserah diri kepadaMU, dan jadikanlah di kalangan keturunan kami umat yang patuh dan berserah diri kepadaMU, serta tunjukkanlah kepada kami syari'at cara-cara ibadah haji kami dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang."

Doa anak pandai belajar
Surah Anbiya ayat 79

Ertinya " Maka Kami beri Sulaiman memahami hukum yang lebih tepat bagi masalah itu; dan masing-masing (daripada mereka berdua) Kami berikan hikmah kebijaksanaan dan ilmu (yang banyak); dan Kami tundukkan gunung-ganang dan burung-burung memuji Kami bersama-sama dengan Daud. Kami sememangnya berkuasa melakukan semua ini."   


Doa-doa lain;
Doa supaya anak rajin belajar dan rajin ke sekolah:
Surah Taha ayat 1 - 5

Doa memohon rahmat
Surah Ali-Imran, ayat 8-9.

Doa anak lembut hati
Surah Al-Anbiya, (ayat 69) atau Al-Hasyar (ayat 22-24) Surah Al-Imran ayat 200

Doa mohon zuriat yang baik 
surah Ali-Imran (ayat 38)

Selagi kita belum menutup mata, selagi itulah kita harus berdoa untuk anak-anak kerana selain membesarkan, membimbing dan memberikan ilmu, doa juga menjadi  penyebab kejayaan anak-anak. Semua orang tahu, anak adalah amanah dari Allah, kita akan ditanya diakhirat nanti tentang tanggungjawab kita dalam membesarkan anak-anak.